Mentradisikan Sadaqah Di Kalangan Para Haji

Pada sisi lain, pengurus masjid juga kerap memberikan buku-buku kecil, baik berisi tuntutan ibadah, penguatan ibadah, dan ada pula buku-buku tafsir ringkas. Yang paling banyak umumnya buku-buku yang berisi tata cara membersihkan tauhid dari syirik, peraktik perdukunan dan sihir. Saya hitung-hitung, setidaknya ada sepuluh judul buku yang saya peroleh pada waktu itu. Belum lagi buku-buku kecil berbahasa Arab yang langsung bisa diminta kepada imam atau nazirnya.
Terus terang saya heran, bagaimana mungkin para jama'ah haji yang umumnya datang dari kalangan berpunya -buktinya mereka sanggup melaksanakan haji dengan biaya yang tidak kecil - tapi sangat antusias menerima sadaqah. Mereka yang dikampungnya terhormat, dan bisa jadi sangat jarang bahkan tidak pernah menerima sadaqah, namun di tanah suci, menjadi orang yang sangat sering menerima sadaqah. Secara sederhana bisa dipahami, antusias jama'ah haji dalam menerima sadaqah di tanah suci karena sulitnya mencari makanan di pemondokan yang jauh dari pusat keramaian. Di samping itu, sadaqah yang diterima sangat berpengaruh untuk "mengetatkan" pengeluaran biaya makan dibanding di tanah air sebenarnya cukup besar. Bahkan di atas semua itu, jama'ah haji sangat membutuhkan sadaqah, ketika tidak ada orang yang berjualan disekitar pemondokan.
Pertanyaan yang muncul adalah, mengapa orang Arab sangat antusias bersedaqah kepada jama'ah haji Indonesia. Jawaban positifnya adalah, disamping alasan-alasan normative yang tertuang di dalam Al-qur'an dan Hadis, mereka sepertinya memiliki kewajiban moral untuk melayani dan menghormati jama'ah haji. Mereka selalu berupaya untuk memuliakan jama'ah haji lewat pemberian makanan atau cendera hati. Dalam bahasa yang sederhana, mereka ingin menjadi tuan rumah yang baik. Namun ada juga alasan lain. Teman saya mengatakan, mungkin dermawan Arab memandang orang Indonesia miskin dan sangat rentan kelaparan.
Buktinya, orang Indonesia suka berdesakan dan cenderung tidak tertib ketika menerima sadaqah. Persis seperti orang yang kelaparan. Pemandangan ini kerap saya saksiskan ketika berada di Syauqiah-Ka'kiyah Makkah.
Saya lebih setuju dengan alasan pertama ketimbang alasan kedua yang cenderung merefleksikan cara berpikir negative. Namun apapun alasannya, kedermawan orang Arab pantas dipujikan. Tentu kita tidak boleh berhenti di sini. Lebih penting dari itu bagaimana tradisi sadaqah dapat dibawa pulang dan menjadi tradisi para hujjaj (jama'ah haji) di tanah air.
Saya sengaja memilih kata "tradisi sadaqah" ketimbang kata "bersedaqah". Keduanya berbeda dari sisi makna. Orang yang bersedaqah tidak otomatis telah mengembangkan tradisi sadaqah dalam hidupnya. Ada orang yang bersedaqah namun sangat terkait dengan momentum. Misalnya, peringatan satu tahun kematian orang tua, ketika memperoleh bonus atau sewaktu mendapatkan musibah. Bisa juga ia bersedaqah karena menebus nazar dan sebagainya.
Sedangkan orang yang mentradisikan sadaqah, perbuatannya tidak tergantung pada momentum tertentu. Sadaqah telah menjadi bagian dari hidupnya. Bahkan lebih dari itu, ia telah memprogramkan sadaqah ketika menerima gaji setiap bulannya. Merekalah orang-orang yang merasakan kebahagiaan ketika memberi. Tidak seperti kebanyakan orang yang bahagia ketika menerima sesuatu.
Dengan demikian, bagi jama'ah haji menjadi sebuah keharusan untuk membangun tradisi sadaqah di dalam kesehariannya. Pengalaman sewaktu melaksanakan ibadah haji, sejatinya mampu mengajarkan banyak hal. Di antaranya adalah, betapa sakitnya ketika kita tidak memiliki sesuatu. Kendatipun kita memiliki uang yang cukup, namun tidak ada yang dapat dibeli. Posisi kita sama dengan orang-orang lapar yang mengharapkan belas kasihan orang lain. Pada saat itu kitalah yang disebut miskin dan dha'if, walaupun di tanah air bisa jadi kita orang kaya atau setidaknya orang yang berkecukupan, namun di Tanah Haram kita menjadi papa.
Jika kita merasakan bahagia ketika menerima pemberian orang lain, terlebih pada saat kita membutuhkan, demikian pula orang lain. Keinginan untuk selalu membahagiakan orang lain, sejatinya harus menjadi komitmen hidup para hujjaj. Semestinya para haji adalah orang-orang yang resah melihat kemiskian, kebodohan dan segala bentuk kelaparan yang berada disekitarnya. Ia akan selalu berupaya sekuat tenaga untuk melepaskan orang-orang susah dari belenggu kelaparan yang mendera mereka.
Jika ayat-ayat Al-Qur'an dan Hadis selama ini sudah cukup mengingatkan kita pentingnya bersadaqah dan berinfaq, pengalaman haji diharapkan dapat menjadi motivasi pamungkas dalam membangun tradisi sadaqah. Tidaklah salah jika idiom yang kita perpegangi adalah, "tiada hari tanpa sadaqah". Sadaqah tidak hanya membahagiakan orang lain, tetapi juga sekaligus mengajarkan kita untuk pemurah dan menjauhi sifat rakus. Sadaqah tidak saja membuat Allah SWT senang dengan kita hambanya, tetapi sadaqah juga berperan menjadi pembuka pintu rezeki bagi orang yang melakukannya. Jika tidak ada orang yang bangkrut karena sadaqah, tidak ada orang yang jatuh miskin karena sadaqah, mengapa kita harus takut untuk memberi dan berbagi.
Di atas segalanya, orang yang mentradisikan sadaqah dalam hidupnya sesungguhnya adalah cermin haji yang mabrur. Sebaliknya orang yang pelit, kikir, asyik dengan harta dan dirinya sendiri, menimbun dan menghitung-hitung hartanya, tanpa perduli dengan orang lain, hal ini menjadi indikator haji yang mardud (tertolak). Na'uzu billah. Adalah aneh, jika diseputar rumah para hujjaj, masih ada keluarga yang terlantar. Lebih aneh lagi, jika ia telah berulang kali naik haji, namun masih terdapat orang disekitarnya yang mati karena kelaparan dan terpuruk karena kebodohan.
Akhir al-kalam, para hujjaj berangkat dari pengalaman hajinya- mestilah menjadi kelompok minoritas kereatif di tengah umat, selalu berupaya untuk melakukan transformasi sosial, membangun kepedulian antar sesame, sehingga akhirnya tercipta tatanan sosial yang adil. Seorang yang hajinya mabrur akan resah dan selalu gelisah jika disekitarnya kebodohan, kemiskinan, dan kemaksiatan masih merajalela. Dengan kemampuannya, sekecil apapun, ia akan berupaya merubahnya. Walaupun hanya dengan segelas air dan sepotong kueh dan sebuah buku tulis isi 12 lembar dengan satu pinsil 2B. Ia tidak akan pernah dapat merasakan nikmatnya zikir dan shalat malam, jika masih ada anak yang menangis karena lapar. Wallahu a'lam.
Post a Comment